Khutbah Jumat – Sillaturahmi

MEMELIHARA  SILATURAHMI

 

الحمد لله الذى خلق الانسان فى احسن تقويم أشهد أن لاإله إلاالله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده. أللهم صل وسلم وبارك على سيدنا ومولنا محمد وعلى اله وأصحابه والتابعين وتابع التابعين وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. فياأيها الناس, اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ وقال رسول الله صلى الله عليه واله وسلم من كان يؤمن بالله واليوم الخر فليكرم ضيفه من كان يؤمن بالله واليوم الخر فليصل رحمه ومن كان يؤمن بالله واليوم الخر فليقل خيرا او ليصمت صدق الله العظيم وصدق رسوله النبي الحبيب الكريم ونحن على ذلك من الشاهدين والشاكرين والحمد لله رب العلمين أما بعد.

Hadirin jamaah shalat jumat yang berbahagia

Tak ada kalimat yang lebih berharga, dibanding kalimat dzikir yang diucapkan hamba untuk Tuhannya, tak ada penghargaan yang paling tinggi selain rasa syukur yang dipanjatkan kepada Allah SWT, tak ada ketaatan yang paling dalam, selain kepasrahan dan rasa tawakkal kita kepada dzat yang memberikan kita segalanya, Allah SWT. Di tempat yang penuh berkah ini, khatib mengajak hadirin semua untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah, syukur sebagai bentuk peningkatan takwa sang hamba kepada Maha pencipta, syukur dalam arti صرف النعم لطاعة الله   mempergunakan segala nikmat hanya untuk ibadah kepada Allah SWT.

 

Rahmat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada manusia sempurna, yang dicintai bumi dan disayangi langit, yang diagungkan manusia dan dimulyakan malaikat, manusia yang menjadi rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam, baginda alam Nabi besar Muhammad SAW. Semoga kita sebagai umatnya selalu bisa mengucapkan sahalawat kepadanya.

 

Hadirin jamaah shalat jumat yang berbahagia

Baru beberapa minggu kemarin kita baru saja ditinggalkan oleh bulan suci ramadhan, hari raya idul fitri pun sudah kita jalani dengan berbagai macam cara dan acara, dari kumandang takbir, tabuh bedug, makan ketupat, sampai kunjung mengunjung sanak keluarga dan hiruk pikuknya acara pulang kampung atau mudik. Indah terasa ketika itu, saat kita bertemu keluarga, sanak saudara dan para sahabat-sahabat kita juga tetangga-tetangga yang berkumpul bercengkerama dan saat hari raya idul fitri. Ini adalah fenomena dan momentum berharga, karena mungkin hanya ada satu tahun sekali. Dan kita biasa menyebut ini dengan kata SILATURAHMI.

Hadirin jamaah shalat jumat yang berbahagia

Kata silaturahmi sudah lazim di masyarakat kita sebagai bentuk kunjungan seorang muslim kepada muslim lainnya, pandangan umum di masyarakat kita sudah sejak lama memahami silaturahmi secara lebih luas dibanding maksud silaturahmi yang sebenarnya. Silaturahmi atau silaturahim berasal dari kata silah dan rahmi. Silah dalam bahasa arab artinya menyambung dan rahmi atau rahim dalam bahasa arab bermakna kandungan atau keturunan, tetapi selanjutnya ada sebagian yang mengartikan kasih sayang, karena sama dengan kata rahmat. Dalam kitab-kitab hadis, pembahasan silaturahmi selalu dihubungkan dengan birrul walidain, berbakti kepada kedua orang tua dan keluarga. Ini menunjukkan bahwa kedudukan awal keberlakuan silaturahmi adalah hanya lingkup orang tua dan keluarga. Ketika ada anak yang lama tidak bertemu orang tuanya, ketika ada kakak beradik atau antar saudara saling bertengkar, maka wajiblah bagi mereka untuk silah, menyambungkan kembali pertalian keluarga mereka. Inilah maksud silaturahmi pada awalnya, sebagaimana dijelaskan Rasulullah Muhammad Saw dalam sebuah hadis

ليس الواصل بالمكافى ولكن الواصل الذي اذا قطعت رحمه  وصلها (رواه البخارى)

Tidak termasuk silaturhami, kunjungan seseorang kepada yang lainnya dalam keadaan damai, tetapi silaturahmi adalah ketika ada pertalian yang  terputus, maka salah seorang menyambungkannya kembali.

 

Hadirin jamaah shalat jumat yang berbahagia

Keluarga adalah sumber kasih sayang, apabila dalam keluarga seluruh anggotanya penuh kasih sayang dan saling menyayangi, maka keluarga itu telah di berikan berkah, kebaikan yang selalu bertambah. Sungguh indah terasa ketika si anak tak pernah berhenti menyayangi kedua orang tuanya, orang tua tidak lupa untuk membimbing dan mendidik anak-anaknya, kaka beradik rukun dalam keluarga, tak ada intrik dan masalah yang bisa menimbulkan perpecahan keluarga. Keluarga seperti inilah yang dijanjikan Rasulullah mendapat kebahagiaan, beliau bersabda

من أحب ان يبسط له فى رزقه و ينسأ له فى اثره ( اي يؤخر له فى اجله وعمره) فليصل رحمه (متفق عليه)

“siapa yang menginginkan rizkinya dilapangkan, dan umurnya dipanjangkan, maka lakukanlah silaturahmi”.

 

Rasulullah juga pernah bersabda

من كان يؤمن بالله واليوم الخر فليكرم ضيفه من كان يؤمن بالله واليوم الخر فليصل رحمه ومن كان يؤمن بالله واليوم الخر فليقل خيرا او ليصمت (متفق عليه)

“siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormatilah tamu. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka haruslah silaturahmi, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka bicaralah yang baik atau diam”.

 

Hadirin jamaah shalat jumat yang berbahagia

Berbagai kisah tentang mereka yang memutuskan pertalian keluarga telah kita dengar dari kisah-kisah nyata ataupun fiksi dari sejarah ataupun legenda. Mereka yang tidak menyayangi dan mengakui orang tua mereka dihukum oleh Allah di dunia dan diakherat. Masa Rasulullah ada kisah al-qomah, seorang anak yang durhaka kepada ibunya, ia tidak bisa mati walaupun sudah sekarat, Rasulullah ingin membakarnya bila ibunya tidak merestuinya. Dalam sejarah masa lalu sering terjadi, bagaimana sebuah keluarga yang harmonis menjadi pertengkaran dan permusuhan abadi dikarenakan hilangnya kasih sayang antar satu keluarga dengan keluarga yang lainnya. Maka sungguh beruntung bagi mereka yang mampu menjaga dan melestarikan nilai-nilai siaturahami di dalam keluarga mereka.

 

Hadirin jamaah shalat jumat yang berbahagia

Namun tak ada salahnya bagi mereka yang memahami silaturhami dengan lebih luas, dengan memaknai silaturahmi sebagai menyambungkan kasih sayang kepada sesama muslim, memberikan kasih sayang kepada sesama manusia dan  makhluk Alllah lainnya di muka bumi. Dalam hal ini Allah memberikan perintahnya dalam al-qur’an surat al hujurat ayat 10

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

 

Rasulullah juga memberikan kabar gembiranya tentang kasih sayang ini

الراحمون يرحمهم الرحمن ارحموا من فى فى الارض يرحمكم من فى السماء

“Orang-orang yang menyebarkan kasih sayang, mereka selalu diberikan kasih sayang oleh yang Maha Penyayang. Maka Sayangilah mereka yang ada di bumi, maka makhluk yang ada di langit akan menyayangimu.

 

Hadirin jamaah shalat jumat yang berbahagia

Manusia diciptakan dengan rasa kasih sayang, Bumi dan alam semesta diciptakan Allah karena kasih sayangnya kepada manusia, maka mulai hari ini, marilah kita berjanji kepada diri kita sendiri, untuk selalu menyebarkan kasih sayang kepada siapapun. Untuk tidak membenci siapapun, sebarkanlah kasih sayang seperti yang dicontohkan nabi muhammad Saw, sebagai rahamatan lil alamin, penyebar kasih sayang bagi seluruh alam. Jagalah dan jauhkan keluarga kita dari api neraka, damaikanlah mereka yang dalam sengketa dan permusuhan, rangkul mereka yang dalam kesusahan, dan bahagialah kita bersama orang-orang di sekitar kita, agar kita bahagia nanti di sisi Allah SWT. Amien ………..

بارك الله لي ولكم فى القران العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ العظيم لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Khutbah Jumat – Mengenal Tahun Hijriyyah

MENGENAL TAHUN BARU HIJRIYYAH

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُورًا. الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاء بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُّنِيرًا. أشهد أن لاإله إلاالله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده. أللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله وأصحابه وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. فياأيها الناس, اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم. هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللّهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ إِنَّ فِي اخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَّقُونَ صدق الله العظيم وصدق رسوله النبي الحبيب الكريم ونحن على ذلك من الشهدين والشكرين والحمد لله رب العلمين أما بعد.

Hadirin Jamaah Shalat Jumat yang dimulyakan Allah

Ungkapan syukur secara mendalam, peningkatan kesadaran ilahiyyah dan ubudiyyah yang berkesinambungan dan pengamalan ibadah dan muamalah yang semakin berkualitas adalah bukti pernyataan ketundukan dan kepasrahan kita kepada Allah SWT,  dari hari dan masa yang terus bergulir sepanjang ruh kita masih menempati jasad, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

 
Rahmat dan Salam semoga tetap Allah anugerahkan kepada yang dihormati manusia, dan diagungkan malaikat, yang ditakuti Iblis dan dijauhi syetan. Sang kekasih Allah, Cahaya di tengah kegelapan, yang syafaatnya selalu dinanti oleh seluruh umatnya, pemegang singgasana kenabian, Pembawa risalah kebenaran, pembuka belenggu kedzaliman, Nabi besar Muhammad SAW.

Hadirin Jamaah Shalat Jumat yang dimulyakan Allah

Sudah 10 hari kita berada dalam bulan Muharram Tahun 1432 Hijriyyah. Rasanya, ketika kita berbicara tentang Muharram, atau tentang tahun baru Islam, tidak ada sesuatu yang menarik bagi kita. Sekilas pandang, kita seakan sudah terlalu dalam mengenal Tahun Masehi dan seluk beluknya sampai mengabaikan perhatian kita terhadap sistem penanggalan yang diwariskan oleh kebudayaan Islam Tanah Arab zaman Rasulullah Muhammad SAW.  Padahal Setiap tahun kita melaksanakan Ibadah puasa berdasarkan Tahun Hijriyyah, Idul Fitri dan Idul Adha berdasarkan Tahun Hijriyyah dan banyak lagi aktifitas keagamaan kita yang hakikatnya berdasarkan penanggalan Kalender Hijriyyah. Maka untuk menambah khasanah keilmuan dan pengetahuan kita tentang islam, ada baiknya kita mengetahui seluk beluk dan awal mula ditetapkannya penanggalan hijriyyah.

 

Hadirin Jamaah Shalat Jumat yang dimulyakan Allah

Pada tanggal 6 Agustus 610 M Rasulullah Muhammad SAW dilantik menjadi Rasul. Kemudian pada tanggal 28 Juni 623 M beliau Hijrah dari kota Mekkah ke kota Madinah. Tepat pada tanggal 9 Juni 633 Masehi Rasulullah wafat. Setelah Rosululloh wafat kemudian kepala Negara digantikan oleh sahabat Abu Bakar Shiddiq r.a. selama 2 tahun dan pada tahun 635 M setelah Sahabat Abubakar wafat selanjutnya kepala Negara diganti oleh Sahabat Umar bin Khattab selama 10 tahun.

Jadi setelah menjadi Rasul beliau 13 tahun tinggal di Mekkah  kemudian menjadi Kepala Negara di Madinah selama 10 tahun. Sahabat Abu Bakar Shiddiq r.a. menjadi kepala Negara di Madinah selama 2 tahun. Sahabat Umar Bin Khathab r.a. menjadi kepala Negara di Madinah selama 10 tahun.

Ketika Sayydina Umar bin khathab menjabat Kepala Negara mencapai tahun ke 5 beliau mendapat surat dari Sahabat Musa Al Asy’ari yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Kuffah, adapun isi suratnya adalah sebagai berikut :

كتب موسى الأشعري الى عمر ابن الخطاب إنه تأتينا منك كتبا ليس لها تاريخ

Artinya: Telah menulis surat Gubernur Musa Al As’ari kepada Kepala Negara Umar bin Khothob. Sesungguhnya telah sampai kepadaku dari kamu beberapa surat-surat tetapi surat-surat itu tidak ada tanggalnya.

Kemudian Khalifah Umar bin Khathab mengumpulkan para tokoh-tokoh dan para sahabat yang ada di Madinah.

Didalam musyawarah itu membicarakan rencana akan membuat Tarikh atau kalender Islam. Dan didalam musyawarah muncul bermacam-macam perbedaan pendapat. Diantara pendapat tersebut adalah sebagai berikut:

  • Ada yang berpendapat sebaiknya tarikh Islam dimulai ari tahun lahirnya Nabi Muhammad SAW.
  • Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasulullah.
  • Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari Rasulullah di Isra Mi’raj kan .
  • Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari wafatnya Nabi Muhammad SAW.
  • Sayyidina Ali krw. Berpendapat, sebaiknya kalender Islam dimulai dari tahun Hijriyahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah atau pisahnya negeri syirik ke negeri mukmin. Pada waktu itu Mekkah dinamakan Negeri Syirik, bumi syirik.

Ternyata Sayidina Umar r.a. lebih condong kepada pendapat –sayidina Ali karamallâhu wajhah– yang mengutamakan peristiwa hijrah sebagai tonggak terpenting daripada peristiwa lainnya dalam sejarah Islam, Hal ini sangat beralasan karena Hijrah Rasulullah SAW, merupakan pembeda antara yang hak dengan yang batil, kejahiliahan dan peradaban.

Hadirin Jamaah Shalat Jumat yang dimulyakan Allah
Ada beberapa hal yang unik dalam Hijriah ini, sejarah mengatakan, bahwa hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabiul Awal –bukan pada bulan Muharram–, Tepatnya beliau bertolak dari Mekah menuju Madinah pada hari Kamis terakhir dari bulan Safar, dan keluar dari tempat persembunyiannya di Gua Tsur pada awal bulan Rabiul Awal, tepatnya pada hari Senin tanggal 13 September 622 tapi mengapa pada kenyataannya, Awal Hijriyyah jatuh pada bulan Muharram, bukan pada bulan Rabiul Awal, Ternyata Sayidina Umar beserta sahabat-sahabatnya menginginkan bulan Muharram sebagai awal tahun hijriah. ini,  karena beliau memandang di bulan Muharramlah Nabi berniat untuk berhijrah, juga dikarenakan karena Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram dalam Islam yang dilarang Allah untuk berperang di dalamnya.
Muharram dalam perspektif Islam, merupakan salah satu dari empat bulan haram yang ada dalam Islam (Rajab, Zulka’dah, Zulhijjah dan Muharram). Dalam empat bulan ini, kita dilarang melancarkan peperangan kecuali dalam kondisi darurat yang tidak dapat kita elakan. Firman Allah Swt dalam surah At Taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ وَقَاتِلُواْ الْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Hadirin Jamaah Shalat Jumat yang dimulyakan Allah

Nama-nama bulan pada Tahun Hijriyyah dari Muharram sampai dengan Dzulhijjah sebenarnya sudah dikenal lama sebelum Rasulullah dilahirkan, nama-nama bulan ini sudah menjadi kebiasaan Orang Arab dahulu sebagai tanda dari aktifitas yang mereka lakukan. MUHARRAM, artinya: yang diharamkan atau yang menjadi pantangan. Penamaan Muharram, sebab pada bulan itu dilarang menumpahkan darah atau berperang. Larangan tesebut berlaku sampai masa awal Islam. SHAFAR, artinya: kosong. Penamaan Shafar, karena pada bulan itu semua orang laki-laki Arab dahulu pergi meninggalkan rumah untuk merantau, berniaga dan berperang, sehingga pemukiman mereka kosong dari orang laki-laki. RABI’ULAWAL, artinya: berasal dari kata rabi’ (menetap) dan awal (pertama). Maksudnya masa kembalinya kaum laki-laki yang telah meninggalkan rumah atau merantau. Jadi awal menetapnya kaum laki-laki di rumah. Pada bulan ini banyak peristiwa bersejarah bagi umat Islam, antara lain: Nabi Muhammad saw lahir, diangkat menjadi Rasul, melakukan hijrah, dan wafat pada bulan ini juga. RABIU’ULAKHIR, artinya: masa menetapnya kaum laki-laki untuk terakhir atau penghabisan. JUMADILAWAL nama bulan kelima. Berasal dari kata jumadi (kering) dan awal (pertama). Penamaan Jumadil Awal, karena bulan ini merupakan awal musim kemarau, di mana mulai terjadi kekeringan. JUMADILAKHIR, artinya: musim kemarau yang penghabisan. RAJAB, artinya: mulia. Penamaan Rajab, karena bangsa Arab tempo dulu sangat memuliakan bulan ini, antara lain dengan melarang berperang. SYA’BAN, artinya: berkelompok. Penamaan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan ini lazimnya berkelompok mencari nafkah. Peristiwa penting bagi umat Islam yang terjadi pada bulan ini adalah perpindahan kiblat dari Baitul Muqaddas di Palestina ke Ka’bah di Mekkah. RAMADHAN, artinya: sangat panas. pada bulan ini kaum muslimin dapat menaklukan kaum musyrik dalarn perang Badar Kubra dan pada bulan ini juga Nabi Muhammad saw berhasil mengambil alih kota Mekah yang dikenal dengan istilah Fathu Makkah. SYAWWAL, artinya: kebahagiaan. Maksudnya kembalinya manusia ke dalam fitrah (kesucian) karena usai menunaikan ibadah puasa dan membayar zakat serta saling bermaaf-maafan. DZULQAIDAH, berasal dari kata dzul (pemilik) dan qa’dah (duduk). Penamaan Dzulqaidah, karena bulan itu merupakan waktu istirahat bagi kaum laki-laki Arab dahulu. Mereka menikmatmnya dengan duduk-duduk di rumah. DZULHIJJAH artinya: yang menunaikan haji. Penamaan Dzulhijjah, sebab pada bulan ini umat Islam sejak Nabi Adam as. menunaikan ibadah haji.

Hadirin Jamaah Shalat Jumat yang dimulyakan Allah

Peristiwa hijrah ke Madinah atau yang saat ini kita peringati sebagai tahun baru Hijrah (1 Muharram 1419), adalah peristiwa yang di dalamnya tersimpan suatu kebijaksanaan sejarah agar kita senantiasa mengambil hikmah, meneladani, dan mentransformasikan nilai-nilai dan ajaran Rasulullah saw Setidaknya ada tiga hal utama dari serangkaian peristiwa hijrah Rasulullah, yang sangat penting untuk kita transformasikan bagi kehidupan.
Pertama, adalah transformasi Sosial. Bahwa nilai penting atau missi utama hijrah Rasulullah beserta kaum muslimin adalah untuk penyelamatan nasib kemanusiaan. Betapa serangkaian peristiwa hijrah Rasulullah, selalu didahului oleh fenomena penindasan dan kekejaman oleh orang-orang kaya atau penguasa terhadap rakyat kecil. Di sisi ini, orientasi kemanusiaan mengadakan suatu transformasi ekonomi dan politik.
Kedua, adalah transformasi kebudayaan. Hijrah dalam konteks ini telah mengentaskan masyarakat dari kebudayaan jahili menuju kebudayaan madani yang Islami. Jika sebelum hijrah, kebebasan masyarakat dipasung oleh struktur budaya otoriter, maka setelah hijrah hak-hak asasi mereka dijamin secara perundang-undangan (syari’ah). Pelanggaran terhadap syari’ah bagi seorang muslim, pada dasarnya tidak lain adalah penyangkalan terhadap keimanan atau keislamannya sendiri. Bahkan lebih dari itu, pelanggaran terhadap hak-hak asasi yang telah dilindungi dan diatur dalam Islam, akan dikenai hukum yang tujuannya untuk mengembalikan keutuhan moral mereka dan martabat manusia secara universal.
Ketiga, adalah transformasi keagamaan. Transformasi inilah, yang dalam konteks hijrah, dapat dikatakan sebagai pilar utama keberhasilan dakwah Rasulullah. Persahabatan beliau dan persaudaraan kaum Muslimin dengan kaum Yahudi dan Nasrani, sesungguhnya adalah basis utama dari misi kerasulan yang diemban Rasulullah SAW. Dari sejarah kita mengetahui, bahwasanya yang pertama menunjukkan ‘tanda-tanda kerasulan’ pada diri Nabi, adalah seorang pendeta Nasrani yang bertemu tatkala Nabi dan pamannya Abu Thalib berdagang ke Syria. Kemudian pada hijrah pertama dan kedua (ke Abesinia), kaum muslimin ditolong oleh raja Najasy. Dan pada saat membangun kepemimpinan Madinah, kaum muslimin bersama kaum Yahudi dan Nasrani, bahu-membahu dalam ikatan persaudaraan dan perjanjian. Karena itulah, pada masa kepemimpinan Nabi dan sahabat, Islam secara tertulis mengeluarkan undang-undang yang melindungi kaum Nasrani dan Yahudi.

Hadirin Jamaah Shalat Jumat yang dimulyakan Allah

Semoga Tahun Baru Hijriyyah memberikan kekuatan baru yang positif bagi kita untuk menjalani aktifitas kita sebagai makhluk yang seharusnya menjadi rahmat bagi seluruh alam. Amin ya Rabbal alamin…………

بارك الله لي ولكم فى القران العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ العظيم لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ